Prince, yang Mengatakan: “Menyenangkan Berada di Negara-negara Islam”

DI dunia musik dunia, Prince adalah salah satu dewanya. Ia meninggal dunia di rumahnya di Minnesota, Amerika Serikat, pada usia 57 tahun. Pernyataan Prince meninggal disampaikan oleh pihak manajemennya. Polisi mendapat panggilan darurat di rumahnya, Paisley Park, pada Kamis 21 April subuh waktu Amerika Serikat, seperti dilaporkan media setempat.
Penyelidikan terkait dengan kematiannya masih berlangsung sampai saat ini.
Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Guardian’s Film&Music, Prince suatu kali mengatakan: “Adalah menyenangkan berada di negara-negara Islam, ketika hanya ada ada satu agama saja. Rakyat senang dengan itu…..”
Ketika ditanya tentang nasib orang-orang yang tidak bahagia karena tidak memiliki pilihan, ia menjawab: “Ada orang-orang yang tidak senang segala sesuatu apapun. Selalu ada sisi gelap di semua hal,” cerocosnya.

Prince sendiri memeluk agama pada tahun 2001, ketika ia menjadi Yehuwa. “Saya anti-otoriter tetapi pada saat yang sama saya adalah seorang tiran yang penuh kasih,” katanya kepada Guardian. “Anda tidak bisa menjadi orang baik. Saya harus belajar apa otoritas itu. Itulah apa yang diajarkan Alkitab. Alkitab adalah panduan belajar untuk interaksi sosial.
“Jika saya pergi ke tempat di mana saya tidak merasa stres dan tidak ada alarm mobil dan pesawat terbang di atas kepala, maka Anda memahami apa itu polusi suara. Kebisingan adalah masyarakat yang tidak memiliki Tuhan, yang tidak memiliki lem. Kita tidak bisa melakukan apa yang ingin kita lakukan sepanjang waktu. Jika Anda tidak memiliki batas, lalu apa?”